Sukses di Tengah Ancaman

Sukses di Tengah Ancaman

Table of Contents

Sukses di Tengah Ancaman

Sukses di Tengah Ancaman
Sukses di Tengah Ancaman

Truman Capote. Ia adalah penulis legendaris di Amerika Serikat (AS). Ia seorang gay. Tapi semasa hidupnya banyak membuat karya spektakuler dalam menulis.

Nama Truman Capote melejit lewat karya adiluhungnya ‘In Cold Blood’, sebuah kisah nyata yang diangkat dari kasus pembunuhan berdarah dingin tahun 1959 yang terjadi di Holcomb, Kansas Barat.

Pria kelahiran New Orleans, 30 September 1942 ini punya keinginan sangat dalam untuk menyajikan hasil reportase dalam bentuk novel.

Truman Capote juga menuai sukses dari novel pertamanya Other Voices, Other Rooms sehingga menempatkan dirinya berada di papan atas penulis sastra Amerika.

Saat menggarap karya spektakulernya “In Cold Blood” Truman butuh waktu 6 tahun untuk mereportase kasus pembunuhan berdarah dingin yang paling sadis terjadi di AS tahun 1959. Buku setebal 474 halaman itu kemudian terpilih sebagai salah satu buku terbaik sepanjang masa versi Modern Library, April 1996.

Karena kesohornya buku tersebut, kisah penggarapan In Cold Blood difilmkan. Bahkan kisah hidup Truman Capote sendiri pun difilmkan dalam ‘Capote’ (2005) dan “Infamous’ (2006).

Sejumlah kesuksesan itu seolah menutup semua pandangan miring tentang orientasi seksual Truman Capote yang penyuka kaum sejenis.

Kisah lain seorang homoseksual yang tetap hidup ‘normal’ adalah Irshad Manji. Ia adalah seorang feminis muslim yang dengan terang-terangan mengaku lesbian. Ia meneriakkan protes keras terhadap pelanggaran atas nama Islam di kalangan perempuan dan kelompok minoritas termasuk kelompok homoseksual.

Melalui buku “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini”, Irshad coba melakukan protes keras atas ketidakadilan atas nama agama.

Hidup di keluarga Islam dengan superioritas seorang Ayah, Irshad tumbuh menjadi gadis yang tidak memimpikan laki-laki. Dididik dalam keluarga di mana perempuan diperlakukan dengan banyak hal yang pedih karena kekuasaan ayah yang sewenang-wenang, Irshad tidak menolak hubungan cinta sesama.

Tahun 1990, setelah lulus S-1 dengan penghargaan untuk bidang sejarah pemikiran dari University of British Columbia, Irshad yang secara terbuka mengatakan dirinya lesbian lebih banyak berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Dia jadi pembawa acara (host) di Vision TV, lantas jadi produser dan host di City TV, Toronto. Pada usia 24 tahun, dia jadi editor di koran terbesar di Kanada, Ottawa Citizen.

Sejak Januari 2008 Irshad bergabung dengan New York University dan mendirikan serta memimpin The Moral Courage Project yang membantu generasi muda memperjuangkan kebenaran dan memberdayakan diri.

Pemikirannya yang kritis terhadap Islam ortodoks dan perjuangannya membela hak-hak asasi manusia—terutama di kalangan perempuan Muslim—membuat aktivis ini memperoleh banyak dukungan. Ia kemudian berhasil memperoleh gelar doktor honoris causa dari Universtity of Washington, Mei tahun ini.

Tapi di sisi lain, di mata kalangan Islam fundamental, Irshad Manji disebut tidak lebih dari seorang provokator yang menyebarkan tafsir setan atas Al Qur’an. Maka sikap kritis yang disuarakan Irshad itu harus ditebus dengan munculnya berbagai ancaman dari kalangan Muslim radikal.

Sebagian besar ancaman berasal dari Pakistan, Mesir, dan kelompok Muslim di Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Jerman. Bahkan rumahnya di Kanada dipasangi jendela antipeluru. Dengan kata lain, hidupnya saat ini sering dalam situasi bahaya. Itu sebabnya ia memilih tidak menikah dan punya anak.

Lalu bagaimana dengan Indonesia dengan kehadiran tokoh-tokoh gay?

Menurut Dodo, seorang tokoh gay di Indonesia, meski masih ada tindakan diskriminatif dari masyarakat terhadap seorang LGBT, tapi kondisinya jauh lebih baik dibanding negara lain yang juga mayoritas penduduknya muslim.

Sementara Marcel, seorang gay yang bekerja sebagai konsultas di bidang kesehatan keluarga menjelaskan, sikap masyarakat Indonesia terhadap kalangan homoseksual maupun lesbian jauh lebih toleran di banding masyarakat Amerika. Sebab saat kuliah di Amerika, ia sering melihat tindak kekerasan anggota masyarakat Amerika terhadap kalangan homoseksual.

Masyarakat di sana menyebut mereka dengan sebutan “Gay Bashing”. Mereka adalah masyarakat Amerika yang anti gay. “Mereka sering memukuli dan menyiksa kalangan homoseksual di sana (AS). Kalau di Indonesia paling dikucilkan atau diledek saja,” jelas Marcel. (ddg/iy)

Baca Juga :

Author: 6ketr