Politik Pemilu di Mata Milenial

Politik Pemilu di Mata Milenial

Politik Pemilu di Mata Milenial

Politik Pemilu di Mata Milenial
Politik Pemilu di Mata Milenial

Pesta demokrasi untuk masyarakat Indonesia tinggal menghitung hari.

Semua diharapkan berpartisipasi menyalurkan hak suaranya untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, termasuk generasi muda (millenial).

Dalam pemilu kali ini, kaum millenial dirasa punya andil yang sangat besar. Pasalnya menurut Komisioner KPU Viryan, berdasarkan rapat pleno KPU bersama Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), peserta pemilu dan lembaga pemantau pemilu diputuskan jumlah DPT Pemilu serentak 2019 sebanyak 192.828.520 orang.

Dari jumlah DPT tersebut, KPU juga mengumumkan jumlah DPT berdasarkan klasifikasi pemilih.

Usia 17-20 tahun sebanyak 17.501.278 orang dan usia 21-30 sebanyak 42.843.792 orang. Kemudian kata Viryan, usia 31-40 tahun sebanyak 43.407.156 orang, usia 41-50 tahun sebanyak 37.525.537 orang, usia 51-60 sebanyak 26.890.997 orang, serta usia 60 ke atas sebanyak 22.601.569 orang.

Dari data di atas, maka diketahui jumlah pemilih milenial (usia 17-30 tahun atau usia produktif) mencapai lebih dari 59 juta pemilih. Tentunya jumlah ini sangat besar dan berpengaruh dalam pemilu. Tapi sudahkah strategi politik dari pemilu saat ini menyentuh hati para milenial?

Moch Sholeh Pratama, Ketua BEM Fakultas Ilmu Budaya pun saat ditemui di Posko

Layanan Pindah Memilih Pemilu UNAIR, Rabu (27/2/2019) mengatakan, pemilu merupakan tahapan penting dalam negara demokrasi seperti indonesia untuk memberikan serta menciptakan perubahan negara ke arah yang lebih baik. Karenanya, partisipasi pemuda dalam Pemilu sangatlah penting. Perubahan berada ditangan pemuda, salah satunya melalui partisipasi memilih dalam pemilu.

 

Baca Juga :

 

 

Author: 6ketr