Pertumbuhan Socio-preneur Turunkan Angka Pengangguran

Pertumbuhan Socio-preneur Turunkan Angka Pengangguran

Pertumbuhan Socio-preneur Turunkan Angka Pengangguran

Pertumbuhan Socio-preneur Turunkan Angka Pengangguran
Pertumbuhan Socio-preneur Turunkan Angka Pengangguran

Direktur Pengembangan Pasar Ditjen Binapenta & PKK Kementerian Ketenagakerjaan

(Kemenaker) Republik Indonesia (RI) Roositiawati menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang mendapat bonus demografi dan jika tidak dikelola dengan baik akan meningkatkan angka pengangguran. Meski demikian angka pengangguran selama lima tahun terahir tercatat mengalami penurunan di mana kontribusi terbesar dari penurunan pengangguran berasal dari tumbuhnya socio-enterprise di Indonesia.

“Angka pengangguran mengalami penurunan menjadi 5,3% atau 6,8 juta selama lima tahun terakhir. Bahkan angkatan kerja Indonesia sudah mencapai 131 juta yang didominasi oleh kaum muda. Kita mampu turunkan angka pengangguran, itu berarti bahwa tidak hanya sektor formal yang bergerak untuk menyerap tenaga kerja tetapi juga tumbuhnya entrepreneur dan socio-preneur,” ujarnya dalam kegiatan Coffee Talk sebelum malam pengumuman pemenang program Secangkir Semangat#BuatNyataTujuanmu di Grand Hyatt, Jakarta, Sabtu (23/2).

Dalam kesempatan tersebut, Roostiawati juga menyampaikan pesan dari Menteri Tenaga Kerja (

Menaker) RI Muhammad Hanif Dhakiri, yang berhalangan hadir: “Socio-preneurs dapat menjadi agen perubahan dan memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Seorang socio-preneur harus jeli dalam melihat dan menciptakan peluang. Mereka juga harus memiliki komitmen dan upaya penuh terhadap pemberdayaan masyarakat sekitar agar dapat menciptakan perubahan, yang berbuah pada kesejahteraan bersama.”

Menaker menambahkan, lanjut Roositiawari, bahwa dalam menjalankan sociopreneurship dibutuhkan motivasi, kerja keras, inovasi dan kreativitas sesuai perkembangan zaman, tanpa melupakan tujuan utama yaitu memberikan kebaikan dan menciptakan dampak sosial yang positif.

Sedangkan, Chief Executive Officer (CEO) PT Tristar Service Indonesia Iwan Murty

mengatakan kewirausahaan sosial akan terus berkembang di Indonesia karena menurut riset yang dilakukannya, sebanyak 50% dari pendiri start up memulai bisnisnya karena ingin membuat dampak.

“Dari kacamata investor, kami mengharapkan sebuah usaha sosial jangan hanya fokus pada produk melainkan pada masalah yang ada dan mulai mencari solusi dari situ. Pastikan ada pengukuran dampak sosial yang jelas agar meyakinkan para investor akan keberlanjutan usaha tersebut,” katanya.

Sementara itu, Sociopreneur dan Co-Founder Evoware David Christian mengingatkan bahwa dalam menjalankan sebuah usaha sosial harus tahu “why”-nya dulu, tujuan usaha sosial yang berasal dari dalam diri sendiri. Yang pasti bukan karena profit.

Profit itu penting, tapi bukan tujuan melainkan hasil. Kita harus berpegang pada value usaha sosial kita agar ketika kendala datang, kita ingat “why” kita menjalankan usaha sosial ini dan terus menjaga keberlanjutan usaha,” tuturnya.

 

Sumber :

https://linda134.student.unidar.ac.id/2019/08/sejarah-siti-fatimah-lodaya.html

 

Author: 6ketr