Perlukah Memakai Masker Saat Berkendara dengan Mobil Pribadi?

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah Indonesia, mewajibkan setiap pengendara kendaraan bermotor memakai masker pelindung. Namun, apakah pemakaian masker efektif untuk pemakai mobil pribadi?

Pasalnya, saat menggunakan mobil pribadi, situasi pengemudi dan penumpang berada di lokasi tertutup, yang sejatinya telah terlindungi dari debu dan kotoran, ataupun virus Corona ataupun lainnya yang sedang di luar.

Dr Frank McGeorge, seorang berpengalaman kesehatan, seperti dikutip clickondetroit, menjelaskan sejumlah hal bersangkutan pemakaian masker, termasuk saat di mobil pribadi. Berikut, sejumlah jawaban dari sang dokter berhubungan pertanyaan pemakaian masker tersebut, laksana dikutip dari Liputan6.com:

Apakah Aman mengemudikan mobil tanpa masker?

Jawabannya, ialah iya, bila melulu Anda dan anggota family dekat kita di dalam mobil.

Namun andai sedang bareng orang lain, tetap dianjurkan menggunakan masker. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit sudah merekomendasikan pemakaian masker kain ketika akan berpergian.

Tentang Virus Corona (COVID-19) yang Kini Masih Jadi Misteri

Hingga kini tidak sedikit ilmuwan yang belum dapat menjelaskan bagaimana virus ini berevolusi dalam tubuh manusia.

Berikut ialah 9 urusan yang masih menjadi pertanyaan untuk para ahli: Sumber : https://dribbble.com/sevamobilbekas/about

1. Bagaimana Cara Penyebarannya?

Sebagian besar negara di dunia mengerjakan yang terbaik untuk menahan tingkat infeksi, tergolong langkah-langkah ketat laksana penguncian yang ditegakkan secara hukum dan aturan jarak sosial.

Semua itu, bagaimanapun, didasarkan pada asumsi bahwa seluruh yang anda ketahui mengenai virus tersebut benar.

Misteri terbesar dari pandemi Virus Corona (COVID-19) ialah bahwa anda tidak tahu bagaimana penyebarannya, dan siapa juga yang mengatakan urusan tersebut hanya bakal menebak-nebak.

Sementara sebelumnya dipercayai bahwa tersebut hanya dapat menyebar melewati sentuhan fisik. Penelitian baru mengindikasikan bahwa virus bisa tetap bertahan di angkasa lebih lama dari yang anda duga sebelumnya, dan tidak membutuhkan pembawa laksana tetesan batuk guna menyebar.

Pada intinya, masih menjadi misteri untuk memahami jawaban tentu tentang darimana seseorang bisa terinfeksi virus.

2. Jalur Transmisi yang Tak Terlihat

Bahkan andai jumlah permasalahan di semua dunia tumbuh pada tingkat yang mengkhawatirkan, anda paling tidak dapat melacak mayoritas ke sumber potensial virus.

Yang mengkhawatirkan, terlihat sejumlah kasus membingungkan dari semua dunia tanpa rute infeksi yang jelas.

Salah satunya, seorang balita di Gujarat, India yang terinfeksi dan meninggal walaupun tidak ada permasalahan yang diketahui di seluruh wilayah itu. Dan seorang lelaki di California, yang menjadi orang Amerika kesatu yang terjangkit virus itu tanpa mengerjakan kontak dengan pembawa potensial.

3. Bagaimana Caranya guna Sembuh?

Biasanya guna penyakit lain, pasien pulih dengan mengembangkan antibodi, yang tidak melulu membantu mereka melawan penyakit ketika ini, tetapi pun mengamankan tubuh mereka dari serangan di masa mendatang oleh jenis yang sama.

Kekebalan tersebut mungkin tidak permanen, laksana dalam permasalahan virus Influenza, meskipun tubuh masih memiliki sejumlah tanda sudah melawan penyakit tersebut.

Itu bukan permasalahan untuk jumlah yang paling tinggi dari pasien COVID-19 yang pulih, dan semua peneliti berusaha untuk mengetahui alasannya.

Dalam satu riset yang dilaksanakan di China, mayoritas yang pulih sudah mengembangkan antibodi yang secara spesifik dimaksudkan guna galur SARS-Cov-2, yang diinginkan akan berhasil.

30 persen dari pasien, bagaimanapun, tidak mempunyai tanda-tanda mereka atau antibodi berhubungan lainnya, dan tidak jelas bagaimana tubuh mereka pulih sama sekali.

4. Kekebalan Tubuh Anak-Anak

Bukan berita baru bahwa jenis Virus Corona teranyar ini memengaruhi masing-masing orang secara berbeda. Jumlah kematian jauh lebih tinggi guna orang yang relatif lebih tua, yang secara populer diterangkan oleh kekebalan mereka yang melemah.

Itu tersiar seperti keterangan yang intuitif, meskipun tidak andai Anda memandang bahwa virus tersebut sebenarnya tidak efektif pada anak-anak. Dibandingkan dengan kematian orang dewasa, jumlah kematian di kalangan anak-anak untungnya nyaris dapat diabaikan.

Walaupun ini adalahberita baik, urusan tersebut juga tidak dapat dijelaskan, sebab anak-anak dewasa ini nyaris tidak dikenal sebab kekebalannya yang tinggi terhadap virus, atau kebugaran. Faktanya, anak-anak seringkali berisiko lebih tinggi tertular infeksi virus pernapasan, laksana flu biasa.

5. Positif Tanpa Gejala

Pada titik ini, jelas bahwa infeksi yang diketahui atau hotspot populer tidak bisa sepenuhnya bertanggung jawab atas banjirnya permasalahan yang mengalir masing-masing saat.

Sementara, ada tidak sedikit kasus di mana pasien dengan fenomena ringan atau tidak terdapat yang dites positif guna virus, melulu mereka yang bisa diuji.

Orang dengan pilek atau batuk ingin tidak memandangnya sebagai masalah besar, dan menurut tidak sedikit dokter dan ilmuwan, mereka barangkali menjadi dalil utama di balik penyebaran virus yang paling cepat.

6. Perubahan Hasil Pemeriksaan

Banyak pasien yang sebelumnya ditetapkan negatif namun lantas diuji positif. Hal ini lantas membuat orang mempertanyakan cara dan perangkat yang dipakai untuk mendeteksinya.

Meskipun benar bahwa virus bisa tetap tidak aktif untuk sejumlah waktu sebelum mengindikasikan gejala, nyaris setiap negara telah memperhitungkannya sebelum menerbitkan pasien yang dicurigai.

Menurut sejumlah ahli, virus barangkali memiliki keterampilan untuk menonaktifkan dan menggiatkan kembali dirinya sendiri di dalam inang manusia, walaupun dapat juga pasien terinfeksi ulang dari sumber lain sesudah dipulangkan, atau sesuatu yang beda sama sekali.

Semua bisa jadi itu, bagaimanapun, terbang di hadapan usulan populer bahwa pasien yang pulih bakal mengembangkan semacam kekebalan terhadap virus – laksana yang bekerja di mayoritas penyakit beda yang anda tahu – yang pada gilirannya bakal memperkuat kekebalan kolektif dari semua populasi.

7. Evolusi pada mAnusia Maish Kurang Dipahami

Strain SARS terakhir, pun disebut SARS-klasik memerlukan waktu guna bermutasi di tubuh insan sebelum menyebabkan kehancuran nyata. Namun, virus ketika ini tampaknya tahu bagaimana teknik menginfeksi dan membunuh semenjak awal, sebab virus tersebut belum berubah sejak mula pandemi.

Itu tidak berarti bahwa virus tidak bermutasi, meskipun tidak terdapat mutasi yang dapat mendapatkan kekuasaan atas yang asli.

8. Bisakah Manusia Menularkannya pada Hewan?

Terlepas dari susunan yang agak panjang dari hal-hal yang masih belum anda ketahui mengenai pandemi COVID-19, anda tahu bahwa virus tersebut berasal dari hewan. Masih ada polemik sengit tentang fauna apa itu, antara trenggiling, kelelawar, dan bahkan unggas sebagai terduga potensial.

Namun, yang membingungkan semua ilmuwan ialah bagaimana format virus insan yang bermutasi kini mentransmisikan pulang ke hewan, sesuatu yang tidak ditebak oleh siapa pun.

Di antara hewan buas, seekor harimau di Kebun Binatang Bronx baru-baru ini didiagnosis mengidap jenis COVID-19, bareng dengan sejumlah yang beda mulai menunjukkan fenomena yang sama. Walaupun ini bukan satu-satunya permasalahan dari jenisnya, semua permasalahan penularan dari insan ke fauna lainnya melibatkan fauna peliharaan.

Ini ialah contoh kesatu dari galur SARS-Cov-2 yang menginfeksi fauna liar, dan tidak terdapat yang yakin bagaimana caranya. Tebakan terbainya ialah bahwa ia berasal dari di antara pekerja kebun hewan yang terinfeksi tanpa fenomena apa pun.

Jika tersebut masalahnya, tersebut seharusnya pun ditularkan ke fauna lain. Belum ada fauna lain ? bahkan kucing besar lainnya ? yang menunjukkan fenomena apa pun, jadi barangkali saja ia memengaruhi harimau sebab suatu alasan.

9. Mengapa Orang Muda Kebal?

Salah satu unsur pandemi yang sangat memprihatinkan ialah tingkat kematian yang paling tinggi di kalangan lansia.

Hal ini memungkinkan virus menyebar nyaris tidak terdeteksi salah satu bagian populasi yang lebih muda dan tidak cukup rentan. kita mungkin beranggapan itu urusan yang baik, tetapi sebetulnya tidak. SARS-Cov-2 dapat hadir tanpa terdeteksi dan menyebar jauh dan luas, sampai menjangkau host yang lebih tua dan menyebabkan malapetaka pada mereka.

Jika gejalanya tidak banyak lebih parah dan terdeteksi pada etape awal, virus bakal mempunyai waktu yang jauh lebih sulit menjangkau target yang lebih lama.

Itu tidak berarti bahwa orang yang lebih muda kebal, karena sejumlah dari mereka pun meninggal sebab virus. Ini ialah sesuatu yang belum sepenuhnya bisa dipahami, sebab menurut keterangan dari pemahaman kita ketika ini mengenai pandemi, orang-orang yang relatif bugar dan lebih muda seharusnya tidak mengembangkan fenomena yang lebih serius.

Author: 6ketr