Membiasakan Berpikir Besar

Membiasakan Berpikir Besar

Table of Contents

Membiasakan Berpikir Besar

Membiasakan Berpikir Besar
Membiasakan Berpikir Besar

Kebiasaan adalah hal-hal yang secara berulang kita lakukan, dan kita melakukannya di alam bawah sadar. Kebiasaan juga menyangkut cara berpikir, hasrat, dan perasaan kita, yang terbentuk oleh berbagai pengalaman kita di masa lalu.

Berulang, itu adalah sifat penting pada kebiasaan, yang membuatnya memiliki kekuatan yang hebat. Misalnya, kita punya kebiasaan meletakkan 1 bata di halaman rumah kita. Maka dalam setahun kita akan punya 365 bata. Bayangkan kalau kita bisa, misalnya, membaca 1 buku sehari.

Karena kebiasaan adalah sesuatu yang berada di bawah sadar dan cenderung menjadi semacam kebutuhan, maka ia sulit diubah. Proses suatu perilaku atau tindakan menjadi kebiasaan disebut habit formation. Menariknya, meski sulit, kebiasaan baru bisa dibangun dan ditumbuhkan.

Ada beberapa tindakan kita sehari-hari yang merupakan kebiasaan. Naik sepeda, naik motor, atau menyetir mobil, adalah kebiasaan. Kita tidak lagi berpikir saat mengayuh sepeda, atau menekan pedal-pedal di mobil. Padahal yang kita lakukan tidak benar-benar perulangan. Syaraf-syaraf kita merespon secara otomatis konteks atau situasi yang kita hadapi secara cepat.

Ada ungkapan menarik, ”First we make our habits, then our habits make us.” Artinya, kita bisa membangun kebiasaan, kemudian kebiasaan-kebiasaan itu yang membentuk diri kita. Kebiasaan bukan sekedar soal tindakan fisik saja. Kebiasaan juga menyangkut soal berpikir. Kalau kita biasa berpikir, menganalisa, beraksi terhadap suatu situasi dengan cara tertentu, maka ia akan membentuk suatu pola pikir.

Pola pikir adalah kebiasaan dalam berpikir. Sama seperti kebiasaan fisik, pola pikir sulit diubah. Tapi, sekali lagi, ia bisa diubah dengan latihan. Kita adalah kebiasaan kita. Kita dibentuk oleh berbagai kebiasaan. Sukses atau gagalnya kita, ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan tersebut. Bila kita mau belajar dari orang sukses, cobalah menelisik pola kebiasaannya. Ia pasti punya kebiasaan tertentu. Kalau kita ingin berubah dari diri kita yang sekarang, tidak bisa tidak, kita harus mengubah kebiasaan-kebiasaan kita.

Nah, apa kebiasaan positif yang kita bangun untuk membentuk diri kita? Kita bisa mulai dari hal kecil seperti tepat waktu, tertib di jalan dan tempat umum, menjaga kebersihan, jujur, dan menepati janji. Pada saat yang sama kita bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasan buruk, seperti menunda, menghindar, menyangkal, dan sebagainya.

Pada level yang lebih tinggi kita bisa melatih diri dengan satu set pola pikir, misalnya, meninggalkan pola pikir dengan sudut pandang korban, menjadi pola pikir proaktif. Kita juga harus membiasakan untuk memilah antara unsur emosional dan rasional dalam pikiran kita. Membedakan mana yang merupakan KEBUTUHAN dan mana yang merupakan KEINGINAN. Agar jangan sampai sifat keinginan yang konsumtif membuat kita terjajah. Misalnya saja, bukannya terampil dalam berteknologi namun justru diperalat/dijajah oleh perangkat teknologi komunikasi itu, akhirnya “talks more do less” yang terjadi.

Penyakit miskin pikiran, diderita banyak orang, di banyak tempat, sepanjang zaman. Hidup tanpa visi, tanpa tujuan, tanpa rencana. Tak terkecuali orang-orang terdidik. Ada berapa banyak orang sekolah, tanpa tahu apa yang mereka cari, dan apa yang mereka tuju. Ada berapa banyak yang mulai bekerja tanpa berpikir, bagaimana rencana karir mereka kelak?

Ada ribuan orang yang tidak menyadari bahwa hidup harus diisi dengan kegiatan belajar pada setiap detik yang mereka lewati. Bangunlah mimpi, susun rencana untuk mewujudkannya. Lalu jalani rencana itu, belajarlah untuk mendapat bekal yang cukup guna mencapai mimpi itu. Lakukan evaluasi untuk memastikan bahwa hidup menuju arah yang benar. Rencanakan karir, tentukan target mau jadi apa kita dalam sekian tahun ke depan. Belajarlah, lengkapi diri dengan keterampilan dan keahlian yang diperlukan pada posisi karir yang lebih tinggi.

Sumber : https://downloadapk.co.id/

Author: 6ketr