“Kiamat Digital” Itu Bernama Millennium Bug

Kiamat Digital Itu Bernama Millennium Bug

“Kiamat Digital” Itu Bernama Millennium Bug

 

Kiamat Digital Itu Bernama Millennium Bug
Kiamat Digital Itu Bernama Millennium Bug

Dua tahun sebelum tahun 2000 muncul ke permukaan, Bill Clinton, presiden Amerika Serikat ke-42, mengeluarkan titah eksekutif yang tidak biasa. Sebagaimana dilansir The New York Times, Clinton memerintahkan bawahannya “untuk bekerja agar program-program krusial pemerintahan federal tidak terganggu atas adanya Y2K”. Gangguan yang menurut perkiraan akan menghabiskan dana senilai $50 miliar untuk memperbaikinya.

Tunggu. Apa itu Y2K?

Kata “komputer” sudah dikenal sejak 1613 untuk menjelaskan “kerja manusia yang melakukan proses perhitungan.” Setelah 209 tahun berlalu, Charles Babbage mengambil alih kata itu untuk benda ciptaannya, Difference Engine, suatu mesin yang sanggup melakukan proses perhitungan. Lima belas tahun setelah itu, Babbage memperbaharuinya dengan Analytic Engine, mesin kalkulasi yang memiliki chip memori khusus sebagai media penyimpanan.

Tahun berlalu dan lahirlah Z1 hingga Turing Machine pada dekade 1930-an.

Komputer, seperti yang dikenal kini, memiliki keterbatasan pada awal kemunculannya. Difference Engine hingga Turing Machine memang revolusioner, tetapi memiliki cela, khususnya soal media penyimpanan atau memori. Kala itu, untuk menyimpan file digital, dibutuhkan modul khusus yang sangat besar nan mahal.

Hard disk, seperti yang dikenal kini, baru muncul pada pertengahan 1950-an. Kala itu, IBM si Big Blue merilis IBM Model 350, hard disk berukuran 24 inci yang memiliki kapasitas penyimpanan hanya 5 megabyte. Sementara itu, hard disk yang berukuran hingga 1 gigabyte baru muncul pada dekade 1980-an, yakni IBM 3380, dan mesti ditebus dengan harga hingga $150.000.

Baca juga: IBM: Si Biru yang Merevolusi Dunia Komputer

Para insinyur kala itu berimprovisasi guna mengakali keterbatasan dan mahalnya harga media penyimpanan. Dalam soal pencatatan penanggalan, khususnya untuk urusan mencatat tahun, insinyur komputer kala itu hanya merancang penulisan tahun dalam dua digit alih-alih empat. Jadilah “55” bukan “1955”, atau “84” untuk tahun “1984”.

Dalam “The ‘Millennium Bug’: It’s Origin, Potential Impact, and Possible Solutions” (1999), Feng Li menyatakan bahwa aksi berhemat digital tahun, dari empat digit ke dua digit, benar-benar bermanfaat. Katakanlah, sebuah bank yang menyimpan data transaksi nasabahnya dan bank itu memiliki 10 juta nasabah dan tiap nasabah melakukan tiga kali transaksi per minggu. Maka ada 60 juta karakter yang bisa dihemat tiap pekan oleh si bank.

Ketika Amazon Web Service, Google Drive, atau iCloud belum muncul, menulis dua digit untuk tahun sangat bermanfaat. Masalahnya, sebagaimana ditulis National Geographic, begitu milenium berganti atau tahun 2000 tiba, selepas tanggal 31 Desember 1999 atau ketika komputer menuliskannya sebagai 311299 (format penanggalan di Indonesia DDMMYY, di AS umumnya MMDDYY), dunia memasuki tanggal 1 Januari 2000. Komputer memahaminya sebagai 010100, yang dua digit terakhirnya “00” dapat diartikan sebagai tahun 1900, bukan 2000.

Itulah Y2K alias Millennium Bug, cacat desain pada komputer yang mengkhawatirkan Clinton dan para manusia modern yang hidup berdampingan dengan komputer, yang terjadi tepat hari ini 19 tahun lalu.

Y2K mengancam, khususnya bagi mereka, perusahaan atau institusi, yang mengandalkan sistem penanggalan yang

ketat. Jika celah Y2K benar-benar terjadi, perbankan akan mengalami masalah. Kredit yang terjadi selepas tanggal 31 Desember 1999, otomatis mengikuti suku bunga pada Januari 1900.

Masih dalam studinya, Li menyebut toko mebel asal Swedia IKEA mengalami masalah pada sistem yang terpasang di cabangnya di Warrington, Inggris, pada 1998. Para pelanggan menggunakan kartu kredit yang tahun kadaluarsanya tertulis “00”. Yang dimaksud tentulah tahun 2000. Sialnya, sistem membacanya sebagai tahun 1900. Peristiwa di IKEA ini membuat orang khawatir Millennium Bug mengancam kehidupan digital.

Kedatangan Y2K tak hanya dikhawatirkan Clinton. Dikutip The New York Times lain menyebut bahwa Ahmad Kamal, kepala bagian teknologi informasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menyatakan negara-negara dunia harus mengantisipasi Millennium Bug.

Jika tidak diantisipasi, riset Gartner Group yang dinukil Li menyatakan bahwa dunia harus rela mengeluarkan biaya $300 miliar hingga $600 miliar karena kekacauan akibat Y2K.

Antisipasi dan Dianggap Hoax
Masih dari studi Fengli, banyak sistem komputer zaman dulu yang menggunakan microchip yang menanam secara permanen perintah dasar pada memorinya. Selain itu, sebagaimana diberitakan The New York Times, Basic Input Output System (BIOS), sistem fundamental pada tiap komputer, benar-benar diciptakan dengan sistem penanggalan tahun dua digit.

Di banyak institusi, satu aplikasi atau software terkait dan terintegrasi dengan aplikasi atau software lainnya. Li

menyatakan bahwa institusi besar umumnya menggunakan sekitar 6.000 aplikasi yang berjalan simultan. Sedihnya, karena banyak aplikasi yang dibuat di masa lampau dengan bahasa pemrograman yang sudah tidak lagi dipelajari, banyak teknisi software yang tidak paham cara mengotak-atiknya. Tercatat, sekitar lima persen kode sumber aplikasi yang dipakai perusahaan telah menghilang.

Maka, memperbaiki Y2K atau Millennium Bug atau Year 2000 sukar dilakukan, baik dari sisi hardware maupun software.

Namun, meskipun sukar, Y2K tidak mustahil diantisipasi. Salah satu yang dapat dilakukan ialah dengan encoding alias mengubah data dari satu bentuk ke bentuk lain. Pada sistem penanggalan zaman dulu, tahun ditulis dalam dua digit. Dan umumnya, penulisan data pada perangkat lawas menggunakan sistem 8-bit. Maka, cara ‘termudah’ agar dua digit dapat membedakan 1900 dan 2000 ialah mengonversinya ke sistem 16-bit.

Selain itu, kehadiran tahun 2000 dapat diatasi dengan menggunakan “dasar aritmatika” yang berbeda. Dua digit pada sistem penanggalan jadul menggunakan sistem desimal berbasis 10 angka, mulai dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9, yang kemudian memungkinkan dua digit itu terisi hingga 99. Untuk membuat dua digit lebih luas, sistem numeral harus diubah menjadi sistem heksadesimal, sistem berbasis 16 angka, dari 0 hingga 9 dan A, B, C, D, E, serta F.

Dua cara encoding ini sanggup membuat dua digit tahun pada sistem penanggalan komputer lawas sanggup lebih

leluasa menyimpan data.

Tapi, rupanya dunia digital aman-aman saja selepas 31 Desember 1999. Tak ada kepastian soal cara seperti apa yang ditempuh mengatasi Y2K, sampai-sampai Millennium Bug sering disangka kepanikan palsu alias hoaks.

Baca Juga:

 

 

Author: 6ketr