Kampus Belum Percaya Diri Melakukan Riset

Kampus Belum Percaya Diri Melakukan Riset

Kampus Belum Percaya Diri Melakukan Riset

Kampus Belum Percaya Diri Melakukan Riset
Kampus Belum Percaya Diri Melakukan Riset

Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan (Risbang) Kementerian Riset, Teknologi

, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), Muhammad Dimyati, mendorong perguruan tinggi (PT) untuk berani melakukan riset. Menurut dia, persoalan mendasar bangsa Indonesia saat ini adalah kurangnya percaya diri untuk melakukan riset.

“Kondisi seperti ini, saya berharap perguruan tinggi dapat mengambil peran karena dalam menyongsong bonus demografi perlu adanya rasa percaya diri untuk melakukan riset yang tidak sekadar publikasi tetapi juga inovasi,” kata Dimyati pada seminar dan diskusi ilmiah bertemakan “Kebijakan dan Strategi Riset dan Publikasi Ilmiah Perguruan Tinggi” yang diselenggarakan di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (21/2/2019).

PT didorong mengembangkan riset dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan masyarakat melalui skema kolaborasi. Tujuannya, agar riset yang dilakukan lebih terencana dan ditangkap sama dunia industri.

Yang terjadi selama ini, riset yang dilakukan per orang pada umumnya cenderung

untuk kesenangan peneliti, bukan untuk sebuah inovasi. Oleh karena itu, meski gairah penelitian di kampus semakin meningkat dengan adanya insentif untuk kegiatan riset, tetapi sejauh ini, Indonesia masih tertinggal karena belum memiliki merek nasional dari hasil riset. Padahal dari segi SDM, Indonesia lebih mumpuni dibandingkan negara ASEAN lainnya.

Meski begitu, Dimyati yakin saat ini Indonesia sedang menuju ke arah tersebut. Hal ini terlihat dari hasil inovasi anak bangsa yang sedang menuju prototipe.

“Era teknologi ini banyak anak bangsa yang inovatif. Misalnya, hasil riset salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Mereka dapat menghasilkan riset yang inovatif berupa film animasi dengan kualitas yang tak kalah dari film Hollywood. Film ini mendapat sambutan luar biasa di luar negeri,” ujarnya.

Selain prestasi tersebut, pemerintah saat ini sedang mengupayakan agar motor Gesit

dapat menjadi merek nasional. Untuk itu, Dimyati mendorong peneliti agar tidak melakukan riset untuk kesenangan semata, tetapi juga dapat menciptakan inovasi yang membanggakan seperti negara lain. Dalam hal ini, perlu tercipta lingkungan riset yang baik sehingga mendorong semua pihak melakukan riset.

Dimyati menyebutkan, pemerintah tengah mengkaji perubahan regulasi untuk mendorong partisipasi industri. Pasalnya, keterlibatan industri masih sangat rendah, baru mencapai 16%. Sedangkan 84% lainnya adalah pemerintah. Bahkan tahun ini, pemerintah telah mengalokasikan dana abadi untuk riset senilai Rp 990 miliar. Dana tersebut akan bertambah setiap tahunnya. Padahal di negara maju seperti Jerman dan Belanda, industri memiliki peran sangat besar.

Mendatang, untuk mendorong industri terlibat, pemerintah mendorong DPR mengesahkan peraturan pengurangan pajak bagi industri. “Untuk mendorong industri terlibat dalam riset, kami mendorong DPR untuk memberi insentif berupa pengurangan pajak,” ujarnya.

 

Sumber :

https://mhs.blog.ui.ac.id/lili.ariyanti/2018/08/12/sejarah-masjid-agung-sang-cipta-rasa/

Author: 6ketr