Jadi Ikon Tapi Tidak Dikenal

Jadi Ikon Tapi Tidak Dikenal

Table of Contents

Jadi Ikon Tapi Tidak Dikenal

Jadi Ikon Tapi Tidak Dikenal
Jadi Ikon Tapi Tidak Dikenal

Ide rekonstruksi jejak sejarah Aceh dan Taman Bustanussalatin berawal dari gagasan Fuad Mardhatila. Ia menjabat Direktur Eksekutif Yayasan Lontar, yang sempat menjadi Deputi BRR Aceh-Nias.

Ide terlontar dalam sebuah diskusi tidak resmi bersama Kamal Arif (akademisi), Debra Yatim (aktivis LSM), dan Nazmiyah Sayuti (Direktur Pelaksana RANTF), di tahun 2006. Fuad dalam diskusi itu mengusulkan gagasan penelusuran jejak-jejak perkembangan Aceh, sejak masuknya Hindu/Buddha hingga tragedi tsunami.

Gagasan Fuad ternyata mendapat tanggapan positif di forum tersebut. Pria yang kini aktif sebagai peneliti di Aceh Institute itu kemudian dipercaya RANTF untuk merancang konsep jejak sejarah Aceh.

RANTF merupakan lembaga di bawah naungan BRR, yang mengelola dana bantuan dari luar negeri maupun pihak swasta nasional. “Mereka setuju dengan gagasan saya dan ingin menjalankannya,” jelas Fuad kepada detikcom.

Namun, belum juga proyek berjalan, tugas Fuad selesai di BRR. Otomatis proyek ‘idealis’ tidak lagi dipegang oleh Fuas. Meski tidak ada keterlibatan Fuad, proyek itu tetap berjalan.

Februari 2007, Nazmiyah Sayuti atas nama RANTF membuat kesepakatan kerja (MoU) dengan Debra Yatim. Perempuan itu saat itu menjabat sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Acehkita. Dana yang dikucurkan dalam proyek itu sebesar Rp 3 miliar.

Dalam MoU itu disepakati Yayasan Acehkita diserahi tugas membuat jejak sejarah, penanaman pohon persahabatan, dan pembuatan Taman Bustanussalatin. Tenggat waktu yang diberikan untuk menyelesaikan proyek itu hingga September 2008.

Namun ternyata, dari laporan-laporan proyek yang masuk ke BRR, Acehkita hanya menyelesaikan pembuatan peta jejak sejarah. Sedangkan pekerjaan yang lain, seperti yang tercantum dalam MoU tidak pernah dilakukan.

Kini ketika proyek itu beralih ke Kamal Arif melalui Yayasan Bustanussalatin, implementasinya juga samar-samar. Namun Kamal Arif, dalam surat elektroniknya kepada detikcom menolak implementasi proyek yang dipimpinnya disebut tidak jelas.

Sejumlah rencana ia beberkan sebagai tanda pelaksanaan proyek itu tetap jalan. Rencana yang akan segera dilaksanakan yaitu melakukan pemasangan 20 plakat di Banda Aceh dan Aceh Besar. Lantas penanaman pohon pada setiap spot plakat yang memungkinkan, pembuatan pembibitan di bantaran sungai, dan sosialisasi berupa peluncuran heritage trails dan seminar.

Rencana lainnya yaitu pelaksanaan pembibitan oleh masyarakat, pembuatan peta dan maket rekonstruksi Bustanussalatin, penerbitan buku Ragam Citra Kota Banda Aceh, penanaman pohon-pohon pada kawasan Bustanussalatin, dan membangun taman “Aceh Thanks The World” di Blang Padang.

Tim Bustanussalatin yang dipimpin Kamal telah merampungkan peta heritage trails di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, menentukan dan membuat plakat-plakat dari bahan tembaga sebanyak 20 buah, dan melakukan studi dan menerbitkan buku Khasanah Tanaman Bunga dan Buah Taman Raja-Raja Bustanussalatin.

Kemudian menerbitkan buku panduan untuk pembibitan, menyiapkan masyarakat yang akan terlibat dalam proses pembibitan -yaitu ibu-ibu di Gampong Pande– melalui pelatihan, membuat animasi jejak budaya dan Bustanussalatin, melakukan inisiasi pembentukan heritage society di Banda Aceh, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh budaya, akademisi dan para seniman Aceh.

Sayangnya, masyarakat Banda Aceh tidak banyak tahu tentang pengerjaan proyek tersebut. Misalnya, rekonstruksi Taman Bustanussalatin yang nantinya diharapkan bisa menjadi salah satu ikon kota Banda Aceh, seperti abad ke-17 silam. “Taman Bustanussalatin di mana, Bang? Apa yang ada di Kampus IAIN?” tanya Wulan, mahasiswa semester empat di Fakultas Ekonomi Universitas Syahkuala, Banda Aceh.

Mungkin Wulan bingung, karena banyaknya monumen dan taman yang dibangun di Banda Aceh, atau karena memang taman itu baru sekadar gagasan. Yang jelas, jawaban senada juga terlontar dari sejumlah kalangan di Banda Aceh, ketika ditanyakan soal keberadaan taman tersebut.

Ketika detikcom mencari tahu tentang lokasi proyek pembangunan taman itu, muncul beberapa versi. Ada yang bilang, lokasinya di Putroe Phang, di Blang Padang. Bahkan ada yang bilang di Gampong Pande. Tapi, ketika lokasi-lokasi itu didatangi, tidak ada tanda-tanda sedang melakukan pekerjaan pembuatan taman. Padahal batas akhir penyelesaian proyek tinggal tiga bulan lagi.

Begitupun, ketika detikcom mendatangi lokasi pembibitan yang ada di Gampong Pande, yang disebut-sebut sebagai salah satu proyek yang ditangani Bustanussalatin. Begitu dilihat lahan pembibitan, ternyata plangnya tertulis kalau proyek itu milik PPK Perhutanan dan Pesisir, yang bekerjasama dengan BRR.

Keterangan Foto: Sebuah plakat sebagai penanda adanya situs Kerajaan Aceh masa silam di Gampong Pande, Kutaraja, Banda Aceh.

Sumber : https://freemattandgrace.com/

Author: 6ketr