Buah Doa dan Kesungguhan

Table of Contents

Buah Doa dan Kesungguhan

Seorang santri yang benar-benar rajin mengaji di sebuah surau di Ranah Minang sana punya satu mimpi dan mimpi itu terus saja menyambanginya, nyaris setiap hari dia ingin berhaji! Dalam benak dan akal sehatnya, rancangan bisa bukan berarti finansial atau keuangan semata, tapi terhitung bisa dalam perihal potensi.

Dia berpotensi dan telah berupaya menuntut pengetahuan supaya pengetahuan itu bisa membimbingnya dalam beribadah, ter-masuk berhaji. Dia pun benar-benar percaya bahwa Allah akan membantu hamba-Nya yang berdoa dan bersungguh-sungguh kepada-Nya. Dia pun bersama dengan disiplin mempelajari bermacam ragam bahasa.

Dia pelajari pula bermacam keterampilan hidup, layaknya memasak dan mengenal rutinitas istiadat bermacam bangsa. Tak luput, pula dia pelajari pengetahuan berniaga dan berwirausaha. Akhirnya, pada umur yang ke dua puluh tahun, pas yang dinantinya pun tiba: dia akan memulai perjalanan hajinya.

Banyak orang mencibir, bahkan pihak keluarga pun turut mempertanyakan tekadnya itu. Maklum, mereka memahami bahwa mereka bukanlah keluarga yang berkecukupan. Apakah bersama dengan bekal yang seadanya itu dia akan bisa menggapai Tanah Suci sesuai bersama dengan yang diharapkan?

Diiringi kecurigaan kaum kerabat, ninik mamak, dan handai taulan, berangkatlah dia menuju Malaka, sebuah negeri di Semenanjung Malaysia. Dia menggunakan pas dua tahun untuk bekerja dan berwirausaha. Lalu, negeri India dijelajahinya, kemudian Pakistan, Afghanistan, dan pada akhirnya tibalah dia di Teheran, ibu kota Iran. Seorang gadis Parsi dinikahinya dan bersama, mereka melacak peruntungan di Isfahan. Pada tahun kelima, sesudah keberangkatannya dari terminal Batu Sangkar, tibalah dia di gerbang Kota Mekah.

Bagi siapa yang sangat percaya Allah akan membantunya, tidak tersedia perihal di dunia ini yang tidak mungkin. Syaratnya ringan saja, lillahi ta’ala, berdoa, dan berusaha.

Baca Juga :

Author: 6ketr