Beberapa Nilai Yang Menghambat Etos Kerja

Beberapa Nilai Yang Menghambat Etos Kerja

Beberapa Nilai Yang Menghambat Etos Kerja

Beberapa Nilai Yang Menghambat Etos Kerja
Beberapa Nilai Yang Menghambat Etos Kerja
  1. Takhayul

Islam ingin menempatkan manusia sebagai subyek yang luhur dan mandiri. Hak dan kewajiban manusia hanyalah menjadi hamba Allah. Rezeki, jodoh, hidup, dan kematian mutlak berada di tangan Allah. Tidak ada suatu Dzat lain yang bisa menggeser hak Allah tersebut. Oleh karena itu, bagi seseorang yang mencari bentuk lain selain Allah, maka dia telah berbuat sirik yang sangat dibenci oleh Allah.

Sikap takhayul ini justru menjatuhkan harkat dan martabat manusia, serta membunuh kreativitas sebagai salah satu ciri etos kerja yang hakiki. Takhayul mengandung suatu ilusi yang membayangkan sesuatu tanpa adanya fakta yang empiris dan dapat dinalar, sehingga nilai keobyektivitasannya justru diragukan. Apabila hal ini diyakini sebagai sebuah kebenaran, maka hal tersebut akan menumbuhkan kemubadziran serta tumpulnya daya pikir.

Sulit diterima oleh akal, korelasi antara keyakinan bahwa menanam “kepala kerbau” berhubungan dengan keselamatan dan keberhasilan suatu proyek yang akan dibangun.

Segala macam kepercayaan takhayul itu mengakibatkan dua sisi kerugian yang sangat fatal bagi manusia, merendahkan derajat kemanusiannya dan menumpulkan etos kerja muslim yang bekerja atas dasar perangkat iman, ilmu, dan tanggung jawab dirinya sebagai hamba Allah.

  1. Alon – alon asal kelakon

Secara hakiki peribahasa yang dikenal sebagai warisan nenek moyang kita tersebut, sebenarnya memberikan pengertian bahwa setiap pekerjaan atau kegiatan apapun harus dilandaskan pada kesungguhan, ketelitian, ketepatan data.

Falsafah serta ungkapan dari nenek moyang atau para leluhur kita itu pada awalnya sangat luhur, tetapi kemudian memberikan konotasi negatif karena telah kehilangan spirit dari makna yang sesungguhnya. Kemudian, juga membawa efek samping yaitu adanya jiwa yang malas. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh menunggu, tidak boleh kehilangan waktu, dan harus pandai mengestimasikan waktu secara tepat.

  1. Sikap gampangan, take it easy

Seorang muslim harus memandang dunia sebagai ajang ibadah yang penuh tantangan dan perjuangan, sehingga segala sesuatu harus diperhitungkan dengan cermat. Dia menyadari bahwa tidak ada suatu pun hal yang diciptakan oleh Allah dengan sia – sia. Jika ada, maka kesia – siaan itu hanya datang dari cara pandang dan sikap manusia itu sendiri. Jadi, kita harus selalu memiliki motivasi yang dicapai dengan disiplin yang tinggi.

  1. Nrimo – fatalistis

Tawakal adalah suatu sikap berserah diri kepada Allah, setelah kita berusaha dan berdoa. Dan, sabar adalah daya tangguh yang tersimpan sebagai energi yang kuat untuk membentengi diri dari kerapuhan jiwa yang mudah menyerah.

Konotasi sabar, pasrah, dan nrimo, jangan sampai berubah menjadi sikap fatalisme. Kita tidak boleh hanya mengikuti arus, tanpa mampu mengubah diri dan posisinya. Sebaliknya, kita harus menafsirkan bahwa sabar itu adalah suatu keyakinan batin yang tangguh dan secara konsisten tidak pernah mengenal kata menyerah untuk tetap meraih cita – citanya.

Konsep kesabaran dalam Islam bukanlah konsep pasrah tanpa melakukan usaha. Tetapi, merupakan suatu sikap batin untuk tetap bekerja dalam rangka mewujudkan keinginannya untuk menjadi manusia yang penuh arti.

  1. Salah persepsi bahwa kerja kasar itu hina

Kita harus membuang jauh – jauh suatu pandangan yang salah bahwa bekerja kasar itu hina. Persepsi seperti ini kemudian melahirkan suatu penyakit yang mendorong seseorang menjadi manusia yang penuh dengan rasa gengsi, rapuh, dan kehilangan daya juang. Jangan sampai terkesan bahwa hanya dengan memakai dasi, maka gengsi akan naik dan mendapatkan kemuliaan. Pada akhirnya, seseorang itu dinilai dari prestasinya, bukan oleh gengsi.

Islam telah mendidik kita agar menjadi pekerja yang tangguh, serta menghasilkan prestasi yang terlahir dari kerja keras dan perjuangan hidup yang ulet.

Rasulullah bersabda,” bahwa memikul kayu bakar lebih baik daripada meminta – minta. Dari ucapan tersebut, tampak jelas bahwa Islam sangat menghargai budaya kerja, tanpa membedakan apakah pekerjaan itu dalam bentuk kerja fisik ataukah dalam bentuk kerja otak. Perbedaannya hanyalah pada ketrampilan atau profesionalisme saja. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa setiap pribadi muslim harus mampu untuk mandiri, bekerja dan berusaha untuk meningkatkan profesionalisme dalam bidangnya masing – masing. Pandangan yang mengatakan bahwa kerja kasar (fisik) itu adalah rendah, sesungguhnya sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/

Author: 6ketr