Upaya Adaptasi Sektor Pertanian Terhadap Perubahan Iklim

UPAYA ADAPTASI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

Upaya Adaptasi Sektor Pertanian Terhadap Perubahan Iklim

UPAYA ADAPTASI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
UPAYA ADAPTASI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

Dampak Perubahan Iklim Pada Sektor Pertanian

Perubahan Pola Curah Hujan dan Kejadian Iklim Ekstrim

Perubahan pola hujan sudah terjadi sejak beberapa dekade terakhir di beberapa wilayah di Indonesia, seperti pergeseran awal musim hujan dan perubahan pola curah hujan. Selain itu terjadi kecenderungan perubahan intensitas curah hujan bulanan dengan keragaman dan deviasi yang semakin tinggi serta peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrim, terutama curah hujan, angin, dan banjir rob. Beberapa ahli menemukan dan memprediksi arah perubahan pola hujan di Bagian Barat Indonesia, terutama di Bagian Utara Sumatera dan Kalimantan, dimana intensitas curah hujan cenderung lebih rendah, tetapi dengan periode yang lebih panjang. Sebaliknya, di Wilayah Selatan Jawa dan Bali intensitas curah hujan cenderung meningkat tetapi dengan periode yang lebih singkat (Naylor, 2007). Secara nasional, Boer et al. (2009) mengungkapkan tren perubahan secara spasial, di mana curah hujan pada musim hujan lebih bervariasi dibandingkan dengan musim kemarau.

 

Sumber Daya Lahan dan Air

Secara umum, perubahan iklim akan berdampak terhadap penciutan dan degradasi (penurunan fungsi) sumberdaya lahan, air dan infrastruktur terutama irigasi, yang menyebabkan terjadinya ancaman kekeringan atau banjir. Di sisi lain, kebutuhan lahan untuk berbagai penggunaan seperti pemukiman, industri, pariwisata, transportasi, dan pertanian terus meningkat, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kemajuan zaman. Secara absolut,lahan yang tersedia relatif tetap, bahkan cenderung menciut dan terdegradasi, baik akibat tidak tepatnya pengelolaan maupun dampak perubahan iklim. Kondisi tersebut menyebabkan laju konversi lahan akan semakin sulit dibendung dan sistem pengelolaan lahan akan semakin intensif, bahkan cenderung melebihi daya dukungnya.

 

Berdasarkan analisis Irawan et al. (2001), dalam periode 1981-99

Telah terjadi alih fungsi lahan sawah seluas 1.002.055 ha, sementara penambahan luas lahan sawah hanya 518.224 ha. dalam periode 1999-2002 telah terjadi konversi lahan sawah seluas 167.150 ha, yang menyebabkan penciutan lahan sawah seluas 107.482 ha (Sutomo, 2004). Data penciutan lahan sawah ini masih menjadi kontroversi, tetapi fakta di lapangan mengindikasikan bahwa intensitas konversi lahan semakin tinggi dan sulit dikendalikan. Penciutan lahan sawah tadah hujan di Jawa relatif kecil setelah tahun 2000. Sementara di luar Jawa cenderung meningkat tajam, sekitar 300.000 ha selama kurun waktu 1995-2000, terutama akibat beralih fungsi menjadi areal perkebunan kelapa sawit.

Pengusahaan lahan kering perbukitan atau lahan berlereng padat penduduk pada umumnya kurang memperhatikan aspek lingkungan dan seakan mendorong perluasan lahan kritis yang umumnya berada di kawasan DAS penyangga. Selain menurunkan produktivitas, kerusakan lahan tersebut juga menurunkan fungsi hidrologis dan potensi sumberdaya air akibat penurunan daya serap dan daya tampung air, meningkatnya ancaman banjir, dan kekurangan air atau bahkan kekeringan. Ancaman banjir dan kekeringan akan diperparah oleh perubahan pola curah hujan dan kejadian iklim ekstrim akibat perubahan iklim.

 

Tanaman

Pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, paling rentan terhadap perubahan pola curah hujan, karena tanaman pangan umumnya merupakan tanaman semusim yang relatif sensitif terhadap cekaman (kelebihan dan kekurangan) air. Secara teknis, kerentanan tanaman pangan sangat berhubungan dengan sistem penggunaan lahan dan sifat tanah, pola tanam, teknologi pengelolaan tanah, air, tanaman, dan varietas (Las et al., 2008b).Oleh sebab itu, kerentanan tanaman pangan terhadap pola curah hujan akan berimbas pada luas areal tanam dan panen, produktivitas, dan kualitas hasil. Kejadian iklim ekstrim, terutama El-Nino atau La-Nina, antara lain menyebabkan: (a) kegagalan panen, penurunan IP yang berujung pada penurunan produktivitas dan produksi; (b) kerusakan sumberdaya lahan pertanian; (c) peningkatan frekuensi, luas, dan bobot/intensitas kekeringan; (d) peningkatan kelembaban; dan (e) peningkatan intensitas gangguan organisme pengganggu tanaman (OPT) (Las et al., 2008a).

 

Faktor pemicu kegagalan panen salah satunya adalah

Serangan hama dan penyakit.Perubahan iklim mengakibatkan perkembangan dinamika serangan hama danpenyakit, salah satu serangan walang sangit dan tikus.

Fattah dan Hamka (2011) menyatakan serangan tikus di musim kemarau lebih tinggi karenapengaruh iklim seperti cuaca. Pada musim kemarau, intensitas curah hujan lebih rendah dibanding musim hujan sehingga aktifitas tikus untuk mencari makanan lebih banyak Berbeda halnya pada musim hujan, berbagai kendala yang dihadapi tikus untuk melakukan aktifitasnya seperti curah hujan yang tinggi menyebabkan terjadinya banjir sehingga banyak lubang-lubang tikus yang terendamakibatnya banyak tikus yang mati karena kedinginan terutama anak tikus.

Baehaki dan Abdullah (2008) menyatakan bahwa perubahan iklim global juga dapat mengakibatkan terjadinya dinamika organisme penganggu tumbuhan yaitu peningkatan serangan hama danpenyakitdi areal persawahan di Indonesia.Fattah dan Hamka (2011) menambahkan bahwapenyebab serangan walang sangit adalah karena pengaruh iklim. Kondisi suhu yang panaskemudian diiringi dengan hujan akan mempengaruhi peningkatan perkembangan populasi hama walang sangit.Perkembangan populasi walang sangit pada kondisi iklim yang mendukung sangat cepat, apalagi bila disertai dengan ketersediaan bahan makanan akan menyebabkan populasi mengalami peningkatan yang sangat tajam sehingga dapat menyebabkan serangan yang lebih luas.

 

Ternak dan Kesehatan Hewan

Pengaruh perubahan pola hujan dan iklim ekstrim terhadap ternak belum banyak dipelajari. Pengaruh langsung dampak perubahan iklim terhadap ternak adalah pertumbuhan yang tidak optimal dan stres akibat kekeringan. Pengaruh tidak langsung dampak perubahan iklim terhadap ternak lebih serius karena berkurangnya ketersediaan pakan alami. Pada umumnya, penyediaan pakan ternak dipengaruhi oleh pola curah hujan, terutama di daerah beriklim kering. Pada musim kemarau dan/atau pada kondisi iklim ekstrim kering, ketersediaan pakan turun drastis, baik kuantitas maupun kualitas. Dampak perubahan pola curah hujan dan iklim ekstrim terhadap ternak terjadi akibat dinamika dan pola distribusi penyakit hewan (OPH).

Perubahan pola curah hujan, kelembaban, dan gas di atmosfer mempengaruhi pertumbuhan tanaman, jamur, serangga, dan interaksinya dengan host. Penyakit hewan cenderung meningkat pada musim hujan dan/atau iklim basah. Peluang kontaminasi berbagai penyakit bawaan ternak dari tanaman pakan lebih besar pada musim hujan, seperti jamur aflatoksin pada kacang tanah, gandum, jagung, dan beras. Oleh sebab itu, perubahan iklim juga akan mempengaruhi produktivitas ternak akibat penyakit menular. Ciri Ciri Teks Laporan Hasil Observasi

Author: 6ketr