Potensi Produktivitas Kelompok

Potensi Produktivitas Kelompok

Potensi Produktivitas Kelompok

Potensi Produktivitas Kelompok
Potensi Produktivitas Kelompok

Sejumlah psikolog percaya bahwa biasanya produktivitas kelompok lebih rendah daripada dindividu. Misalnya membandingkan jumlah waktu antara individu dan kelompok dalam memecahkan suatu masalah. Individu memang dapat memecahkan masalah dengan waktu yang lebih cepat daripada kelompok. Namun jumlah waktu tersebut tidak menentukan kualitas keputusan yang diperoleh. Menurut Steiner, potensi produktivitas kelompok adalah tingkat produktivitas maksimal yang bisa dicapai suatu kelompok dalam suatu tugas yang menyatakan bahwa hal itu tergantung pada dua faktor, yaitu sumber daya yang dimiliki anggotanya dan tuntutan tugas.

Terdapat 3 kekurangan dalam metode Steiner:

  1. Tersirat bahwa terdapat potensi dasar produktivitas yang unik yang merupakan batasan tertinggi presentasi kelompok.
  2. Ia menganggap bahwa individu tidak lebih termotivasi jika mereka bekerja dalam kelompokknya dibandingkan jika bekerja sendiri.
  3. Ia beranggapan bahwa individu selalu menggunakan potensi mereka secara maksimal.

Metode pengambilan keputusan

  • Metode 1: Keputusan oleh penguasa tanpa diskusi kelompok

Dalam metode ini, pemimpin yang terpilih membuat keputusan sendiri tanpa meminta pertimbangan dalam bentuk apapun dari anggotanya. Hal ini sangat efisien, karena tidak membutuhkan waktu yang lama.

  • Metode 2: keputusan oleh ahli

Metode ini meminta salah satu anggotanya yang paling ahli atau berpengalaman dalam hal membuat keputusan. Biarkan seseorang yang ahli tersebut memikirkan masalahnya, dan membuat keputusan yang kemudian di umumkan kepada anggota kelompok yang lain. Tetapi dalam metode ini yang menjadi masalah adalah memilih orang yang ahli, sering kali memilih orang yang ahli itu dengan cara memilih orang yang populer, atau sering tampil, atau yang berkuasa.

  • Metode 3: keputusan dengan rata-rata pendapat individu

Metode ini dengan cara menanyakan pendapat tiap anggota kelompok dengan cara terpisah, atau sendiri-sendiri, kemudian menggabungkan dan merata-rata hasilnya. Hasil pendapat yang paling tinggi itulah yang akan menjadi keputusan akhir.

  • Metode 4: keputusan oleh penguasa setelah diskusi kelompok

Dalam metode ini, anggota akan berdiskusi dan menyampaikan pendapatnya, sehingga pemimpin akan memilih pertimbangan keputusan yang terbaik dan mengambil keputusan tersebut. Anggota tidak berhak atau tidak terlibat dalam hal mengambil keputusan.

  • Metode 5: keputusan oleh minoritas

Dalam metode ini, minoritas disini bisa saja dalam bentuk kuantitas atau jumlah, tapi ia memiliki kekuasaan yang mayoritas. Misalnya dosen merupakan minoritas di kelas, tapi dosen mayoritas dalam power.

  • Metode 6: keputusan oleh voting mayoritas

Metode ini merupakan metode yang paling banyak digunakan di banyak negara, begitu banyaknya sampai menjadi suatu kebiasaan. Caranya dengan membahas sebuah masalah dan mengambil keputusan yang harus di setujui oleh paling sedikit 51% anggotanya. Hal ini mirip dengan proses sistem pemilu.

  • Metode 7: keputusan dengan konsensus

Konsensus merupakan metode pengambilan keputusan yang paling efektif, tapi metode ini memerlukan waktu dan sumber yang paling banyak. Ketika suatu keputusan dibuat melalui konsensus, semua anggota mengerti hasil keputusannya dan siap untuk mendukung. Konsensus adalah metode yang paling baik untuk menghasilkan keputusan yang inovatif, kreatif, berkualitas tinggi dimana semua anggotanya mempunyai komitmen dalam melaksanakan hasil keputusannya, menggunakan sumber daya yang dimiliki setiap anggota kelompok, dan meningkatkan keefektifan pengambilan keputusan kelompok di masa yang akan datang.

Hubungan antara waktu dan pengambilan keputusan

Setiap metode pengambilan keputusan membutuhkan waktu yang berbeda-beda, semakin banyak melibatkan orang atau anggota, maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengambil sebuah keputusan. Biasanya, membuat keputusan penting lebih baik jika dilakukan dalam kelompok daripada secara individual.

Faktor pendukung pengambilan keputusan.

Efektif atau tidaknya sebuah keputusan kelompok tergantung pada bagaimana kelompok tersebut disusun. Jika ingin memaksimalkan potensi kelompok, maka harus menyusun lima elemen dasar jalannya kelompok, yaitu saling ketergantungan yang positif, interaksi secara langsung, akuntabilitas anggota, kemampuan sosial, dan proses berkelompok.

Faktor penghalang pengambilan keputusan kelompok

  • Kurang dewasanya kelompok

Anggota kelompok memerlukan waktu dan pengalaman untuk menyesuaikan kebiasaan dengan dinamika kelompok yang baru, walaupun sebelumnya memiliki kemampuan berkelompok dan pernah terlibat dalam kelompok yang efektif. Kedewasaan kelompok dapat dicapai ketika anggota sudah bekerja sama dalam waktu yang cukup lama, sehingga sudah penyesuaian.

  • Cepatnya pengambilan keputusan berdasarkan respons dominan

Keputusan yang buruk seringkali diakibatkan oleh cepatnya pengambilan keputusan dengan respon dominan kelompok atau pendapat mayoritas kelompok. Hal ini bisa di dasari karena faktor lapar, kemalasan, dll.

  • Kemalasan sosial: sembunyi dalam kelompok

Kemalasan ini timbul karena adanya kelebihan anggota dalam mengerjakan suatu hal. Misalnya jika pengerjaan itu bisa dikerjakan oleh tiga orang, tetapi ternyata dilakukan oleh tujuh orang, maka empat orang yang lainnya biasa akan nganggur, dan merasa anggota yang lain sudah mengerjakannya.

  • Tumpangan gratis: mendapatkan sesuatu tanpa usaha

Ketika dalam kelompok kita tidak berkontribusi, karena jika secara individu kesuksesan dan kegagalan merupakan tanggung jawab kita sendiri. Sementara jika dalam kelompok merupakan tanggung jawab bersama. Menumpang gratis dapat diartikan mengambil keuntungan dari anggota kelompok yang lain. Biasanya ini terjadi karena percaya bahwa mereka tidak diperlukan, tenaga mereka tidak dibutuhkan, sehingga mereka merasa kegagalan dan kesuksesan tidak berpengaruh dari dirinya, sehingga mereka tidak berkontribusi.

  • Hilangnya motivasi karena ketidakadilan

Ketika ada orang yang mengambil keuntungan dari kita, maka kita akan mengurangi usaha kita dalam bekerja.

  • Pemikiran kelompok dan penghindaran defensif

Terkadang anggota ketika mendapat kesulitan itu melakukan penghindaran defendif, mencari alasan, menyangkal tanggung jawab mereka sendiri.

  • Buruknya manajemen konflik oleh anggota kelompok

Jika kelompok mengatasi konflik dengan tidak bijaksana, maka keefektifan kelompok akan berkurang. Jika konflik dalam kelompok tidak dapat diatasi, maka akan terjadi persaingan antar anggota, sehingga ketika mereka berpendapat bukan karena untuk mencari solusi, tapi karena membantah pendapat saingan antar anggota kelompoknya.

  • Keegoisan anggota kelompok

Ketika anggota kelompok secara egois mengemukakan pendapatnya dan dengan dingin mengevaluasi informasi dan kesimpulan anggota lain, maka persaingan pendapat akan terjadi. Dan ketika semakin banyak anggota yang berpegang pada pendapat mereka sendiri, maka semakin rendah kualitas yang dihasilkan.

  • Kurangnya heterogen kelompok

Semakin homogen sauatu kelompok, maka semakin susah menemukan solusi.

  • Gangguan dan halangan dalam menghasilkan

Ketika ada satu orang yang mengemukakan pendapatnya terlalu lama, dan anggota lain menunggu untuk mengemukakan pendapatnya, tapi karena terlalu lama sehingga sudah berpindah ke topik yang lain.

  • Jumlah kelompok yang tidak sesuai

Jumlah anggota yang mengambil keputusan harus sebanding dengan jumlah seluruh kelompok. Semakin sedikit anggota yang berperan dalam pengambilan keputusan, maka semakin kurang efektif.

 

Pengambilan keputusan yang prematur dan meminimalisasi pertentangan

Ketika ada dua pilihan solusi yang sama baik, atau alternatif lain yang sama menariknya, tapi kelompok menghilangkan alternatif ini, sehingga mendukung banyak pada pilihan yang pertama.

 

Anggota tidak mempunyai keterampilan yang relevan

Jika anggota kelompok tidak mempunyai keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas dan bekerja sama dengan efektif, maka keputusan dibuat tidak akan efektif. Jika keterampilan dalam mengerjakan tugas dan keterampilan kerja kelompok rendah, kualitas keputusan kelompok pun akan semakin rendah.

 

Kurangnya dukungan bagi individu dan halangan untuk berkontribusi

Ketika dukungan untuk berkontribusi rendah, maka anggota cenderung memberikan usaha yang tidak maksimal dalam mencapai tujuan kelompok.

Sumber : https://topsitenet.com/article/213042-chemical-periodic-table-system/

Author: 6ketr