Pendidikan Jarak Jauh dan Pencegahan Radikalisme di Kampus

Pendidikan Jarak Jauh dan Pencegahan Radikalisme di Kampus – Saat ini di Indonesia masih tidak sedikit kapasitas perguruan tinggi yang terbatas, keterjangkauan Perguruan Tinggi yang belum merata, dan masih perlunya perguruan tinggi mempunyai sumber daya edukasi yang memadai. Sehingga diperlukan peningkatan akses terhadap edukasi tinggi berbobot dan berkualitas.

Teknologi Informasi berkembang pesat di era digital dan revolusi industri 4.0. Saat ini dengan memanfaatkan konektivitas jaringan Indonesia Research And Education Network (Idren). Kemenristekdikti sedang mengembangkan sistem perkuliahan secara online dan meyakinkan program perkuliahan jarak jauh diseluruh Perguruan Tinggi Negeri dan swasta di Indonesia.

Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ketika ini menawarkan potensi besar untuk membalas tantangan itu di atas. TIK menyerahkan peluang dilakukannya edukasi tinggi berjejaring (networked higher education) dan pembelajaran daring (online learning).

Atas dasar berikut SPADA Indonesia muncul sebagai di antara terobosan (breakthrough) dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dalam menambah tenaga terampil berpendidikan tinggi.

Dengan sistem pembelajaran daring, SPADA Indonesia menyerahkan peluang untuk mahasiswa dari satu perguruan tinggi dapat mengekor mata kuliah berbobot tertentu dari perguruan tinggi beda dan hasil belajarnya dapat dinyatakan sama (transfer kredit) oleh perguruan tinggi lokasi mahasiswa itu terdaftar.

Menyongsong pembangunan ekonomi digital, SPADA Indonesia adalahterobosan baru sebagai sarana pertukaran kepakaran nasional mapun internasional di sekian banyak bidang yang bisa diakses oleh semua masyarakat Indonesia dari ujung barat pulau Sumatera hingga ujung unsur timur Papua.

Jejaring komunikasi digital yang menjadi tulang punggung SPADA Indonesia, memungkinkan semua pakar dari sekian banyak penjuru Indonesia dan bahkan dunia berbagi kepakaran dan berkontribusi aktif membelajarkan mahasiswa pada terutama dan masyarakat pada umumnya.

SPADA atau Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) secara teknis sudah tertuang dalam Permendikbud No. 109 tahun 2013 mengenai Pendidikan Jarak jauh pada Pendidikan Tinggi. Dimana PJJ ialah suatu sistem pembelajaran dimana peserta belajar dan dosennya terpisah jarak. Pembelajarannya lebih menekankan pada belajar berdikari berbasis ragam sumber belajar. dan komunikasi belajarnya dimediasi oleh teknologi telekomunikasi.

Sampai ketika ini (Mei 2018) SPADA telah meluangkan 4.829 modul Mata Kuliah Daring dan Mata Kuliah Terbuka guna 776 Mata Kuliah yang ditawarkan oleh 51 Perguruan Tinggi Penyelenggara yang dibuntuti oleh 14.931 mahasiswa dari 176 Perguruan Tinggi Mitra di semua Indonesia.

Selanjutnya SPADA Indonesia berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemdikbud, mengembangkan 1.268 modul guna 53 Mata Kuliah e-learning/Hybrid Learning PPG Dalam Jabatan. Dengan demikian, SPADA Indonesia telah meluangkan 6.097 Modul Daring. Modul ini tersingkap untuk dimanfaatkan sebagai mata kuliah daring maupun pelajaran terbuka untuk mahasiswa, dosen perguruan tinggi di Indonesia.

“Menghadapi era revolusi industri 4.0, dimana peran digitalisasi amat penting, maka pendidikan pun harus inovatif, pendidikan sekarang tak lagi diberi batas jarak dan ruang, seluruh dapat dilaksanakan dengan edukasi jarak jauh. Indonesia dapat dan maju dengan PJJ ini,” tutur Menristekdikti Mohamad Nasir.

Pencegahan Radikalisme di Kampus

Kesadaran bakal pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa dalam upaya untuk menjangkau tujuan anda hidup berbangsa dan bernegara laksana yang tertera dalam pendahuluan UUD 45 sangat urgen untuk dihayati dan diterapkan.

Kesadaran bahwa perguruan tinggi adalahkomponen strategis bangsa dalam mencetak calon pemimpin bangsa masa mendatang misinya tidak boleh ternoda oleh faham-faham radikal sebab sangat berbahaya dan membahayakan masa mendatang bangsa.

Menangkal radikalisme mesti menjadi usaha bareng kolaboratif dan sinergistik serta di anggap sebagai keharusan semua bagian civitas akademika kampus, dosen, karyawan dan mahasiswa. Termasuk juga berkolaborasi dengan pihak-pihak yang berhubungan dan masyarakat/keluarga, (BNPT, POLISI, TNI dll).

Pencegahan mesti dilaksanakan melalui sekian banyak momentum eksistensi mahasiswa di kampus, baik melalui pekerjaan kurikuler maupu tambahan kurikuler. Contoh pembekalan bela negara ketika orientasi mahasiswa baru, masuknya wawasan kebangsaan dan bela negara kedalam mata kuliah MKWU atau melalui sekian banyak kegiatan kemahasiswaan yang terdapat dan berkualitas.

Harapannya kedepan ialah kampus dapat menjalankan sekian banyak programnya dengan baik dan berkualitas/berdaya saing. Perguruan tinggi menjadi pencetak calon pemimpin bangsa yang cerdas, berkarakter, innovatif dan berdaya saing untuk membawa Indonesia lebih baik dan maju di masa yang bakal datang.

“Ingat, jauhi hal-hal sehubungan dengan radikalisme, terorisme, dan narkoba, tetap jaga persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pesan Menristekdikti Mohamad Nasir.

Baca di www.bahasainggris.co.id

Author: 6ketr