Pembelian Merupakan Satu Tahap Dari Keseluruhan

Pembelian Merupakan Satu Tahap Dari Keseluruhan

Pembelian Merupakan Satu Tahap Dari Keseluruhan

Pembelian Merupakan Satu Tahap Dari Keseluruhan
Pembelian Merupakan Satu Tahap Dari Keseluruhan

Kegiatan pembelian merupakan satu tahap dari keseluruhan proses pembelian konsumen.

Proses pembelian terdiri dari tahap-tahap yang dimulai dengan pengenalan terhadap kebutuhan dan keinginan serta tidak berhenti setelah pembelian dilakukan. Pembahasan terlebih dahulu tentang model yang dapat menjelaskan proses pembelian, struktur pembelian dan macam-macam situasi pembelian. Ini semua dalam satu rangkaian proses yang dialami konsumen untuk mengambil keputusan membeli suatu produk (Swastha dan Handoko, 2000).
Menurut (Swastha dan Handoko, 2000) untuk memahami perilaku konsumen dalam memenuhi kebutuhannya, dapat dikemukakan dua model proses pembelian yang dilakukan oleh konsumen, yaitu: (a) Model fenomenologis, berusaha mereprodusir perasaan-perasaan mental dan emosional yang dialami konsumen dalam memecahkan masalah pembelian yang sesungguhnya; dan (b) Model Logis, model perilaku konsumen ini berusaha menggambarkan struktur dan tahaptahap keputusan yang diambil konsumen, mengenai jenis, bentuk, modal dan jumlah yang akan dibeli, tempat dan saat pembelian, harga dan cara pembayaran.
Setiap keputusan membeli mempunyai struktur sebanyak tujuh komponen (Swastha dan Handoko, 2000). Komponen-komponen tersebut adalah: keputusan tentang jenis produk, bentuk produk, merek, penjual, jumlah produk, waktu pembelian, cara pembayaran.
Situasi pembelian adalah beragam, jika konsumen akan membeli suatu rumah atau barang-barang tahan lama, maka ia melakukan usaha yang intensif untuk mencari informasi.
Sebaliknya, jika konsumen membeli makanan dan minuman yang merupakan kebutuhan sehari-hari, maka ia akan melakukan pembelian rutin. Pembelian seperti ini biasanya tidak mendorong konsumen untuk melakukan pencarian informasi dengan intensif. Situasi pembelian yang berbeda menyebabkan konsumen tidak melakukan langkah-langkah atau tahapan pengambilan keputusan yang sama.

Keputusan membeli atau mengkonsumsi suatu produk dengan merek

Tertentu akan diawali oleh langkah-langkah sebagai berikut (Sumarwan, 2003): (a) Pengenalan Kebutuhan, muncul ketika konsumen menghadapi suatu masalah, yaitu suatu keadaan dimana terdapat perbedaan antara keadaan yang diinginkan dan keadaan yang sebenarnya terjadi; (b) Pencarian Informasi, mulai dilakukan ketika konsumen memandang bahwa kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dengan membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Konsumen akan mencari informasi yang tersimpan di dalam ingatannya (pencarian internal) dan mencari informasi dari luar (pencarian eksternal); (c) Evaluasi Alternatif, pada tahap ini konsumen membentuk kepercayaan, sikap dan intervensinya mengenai alternatif produk yang dipertimbangkan tersebut. Proses evaluasi alternatif dan proses pembentukan kepercayaan dan sikap adalah proses yang sangat terkait erat. Evaluasi alternatif muncul karena banyaknya alternatif pilihan; (d) Menentukan Alternatif Pilihan, pada proses evaluasi kriteria, konsumen akan mendapatkan sejumlah merek yang dipertimbangkan.
Konsumen akan mengurangi jumlah alternative merek yang akan dipertimbangkan lebih lanjut; (e) Menentukan Pilihan Produk, proses pemilihan alternatif ini akan menggunakan beberapa teknik pemilihan (decision rules). Decision rules adalah teknik yang digunakan konsumen dalam memilih alternatif produk dan merek.

Dalam rangka peningkatan taraf hidup rakyat Indonesia

Melalui penyediaan perumahan secara merata, khususnya bagi kelompok MBR, sangat rendah dan kelompok berpenghasilan informal, maka diperlukan upaya penyediaan perumahan murah yang layak dan terjangkau akan tetapi tetap memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Upaya memenuhi ketiga persyaratan dasar tersebut di atas serta memenuhi tujuan dari penyediaan perumahan bagi kelompok masyarakat tersebut maka perlu disediakan suatu rancangan yang memenuhi standar minimal (KepMen Kimpraswil No. 403/KPTS/ M/ 2002).
RSH merupakan tempat kediaman yang layak dihuni dan harganya terjangkau oleh MBR dan sedang, berupa bangunan yang luas lantai dan luas kavlingnya memadai dengan jumlah penghuni serta memenuhi persyaratan kesehatan rumah tinggal (KepMen Kimpraswil RI No. 403/KPTS/2002).

Krishnan dan Murugan (2007)

Melakukan penelitian tentang gaya hidup terhadap pembelian mesin cuci. Penelitiannya menunjukkan: gaya hidup tidak signifikan dengan karakteristik demografis konsumen; antara variabel keputusan pembelian dengan influencer ditemukan bahwa pengaruh keluarga dalam pembelian lebih menonjol; atribut produk tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian; terdapat hubungan antara pilihan merek dan gaya hidup. Kesimpulannya, adalah karakteristik gaya hidup mempunyai pengaruh pada perilaku pembelian.
Menurut Prayogo dalam penelitiannya (1997) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang dominan pada gaya hidup pembelian mobil adalah faktor informasional, faktor activities, kemudian secara berurutan adalah factor opinion, faktor value expressive, faktor interest, faktor utilitarian.

Author: 6ketr