Netty Heryawan Ekspos P2TP2A di Simposium Hukum Nasional

Netty Heryawan Ekspos P2TP2A di Simposium Hukum Nasional

Netty Heryawan Ekspos P2TP2A di Simposium Hukum Nasional

Netty Heryawan Ekspos P2TP2A di Simposium Hukum Nasional
Netty Heryawan Ekspos P2TP2A di Simposium Hukum Nasional

DEPOK-Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A

) Jawa Barat Netty Heryawan menjadi narasumber pada Acara Talkshow Simposium Hukum Nasional 2014 dengan tema “Kita Adalah Mereka : Memahami Korban Kekerasan Seksual” di Auditorium Fakultas Hukum Universitas Indonesia Depok, Selasa (18/11).

Anak-anak dan perempuan, menurut Netty, sangat rentan terhadap kekerasan dalam bentuk apapun. Mereka yang seharusnya diberi kasih sayang dan dijaga tetapi malah jadi korban. Apalagi jika pelaku kekerasan adalah anggota keluarga atau tetangga.

Netty menyebutkan, upaya yang dilakukan oleh P2TP2A melalui promotif

melalui iklan layanan masyarakat, preventif melalui Gerakan 20 Menit Orangtua mendampingi anak dan PABM (dalam proses), kuratif melalui penanganan secara medis psikologis hukum dan rehabilitatif melalui pelatihan serta pemberdayaan.

Hal serupa dituturkan Deputi Bidang Perlindungan Perempuan Kementrian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Mudjiati bahwa apapun bentuk kekerasan yang dialami merupakan hal yang sangat merugikan bagi perempuan dan anak. Selain itu kekerasan yang dialami dari berbagai aspek antara lain dari tatanan sosial, umur, jenis kelamin dan status perkawinan.

Dengan adanya percepatan jaman sekarang ini sebagai mahasiswa bukan saja belajar dari aspek

formal tetapi harus mau belajar juga di lapangan seperti apa. Sehingga kita akan paham dan dapat mengimplmentasikan antara KUHP dengan kasus yang dialami korban.

Di lain pihak Pendiri Lembaga Inspirasi Indonesia Helga Worotitjan mengatakan kita harus mempunyai persepsi yang sama tentang keberpihakan terhadap korban bukan pelaku demi menjaga peradaban bangsa. Karena kekerasan yang dialami bukan seks semata tetapi bagaimana hasrat menguasai korban oleh pelaku.

Pendiri Lentera Indonesia Wulan DanoeKoesoemo menjelaskan dengan adanya penguasaan terhadap korban karena adanya pola yang dilakukan oleh korban sehingga pelaku akan dengan mudah melumpuhkan korban ketika lengah untuk melakukan kekerasan.

 

Sumber :

http://scalar.usc.edu/works/istory/what-is-the-difference-between-vocational-school-and-academic-school

Author: 6ketr