Kriteria Sebuah Kata dari Bahasa Daerah Bisa Masuk KBBI

Kriteria Sebuah Kata dari Bahasa Daerah Bisa Masuk KBBI

 

Kosakata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ada yg diserap menurut bahasa wilayah maupun bahasa asing. Untuk sebagai kosakata bahasa Indonesia, terdapat beberapa kriteria yang harus dimiliki, diantaranya unik, eufonik, seturut kaidah Bahasa Indonesia, nir berkonotasi negatif, dan kerap dipakai.

Kepala Bidang Pelindungan, Pusat Pengembangan & Pelindungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud, Ganjar Harimansyah berkata, eufonik sebagai galat satu kriteria sebuah kata sanggup dimasukkan ke dalam KBBI.

Kriteria Sebuah Kata dari Bahasa Daerah Bisa Masuk KBBI
Kriteria Sebuah Kata dari Bahasa Daerah Bisa Masuk KBBI

 

“Salah satunya enak didengar, eufonik lah bila pada ilmu suara. Kemudian nir ambigu bila dituturkan oleh orang lain. Misalnya (istilah) ‘ngabuburit’ kan telah masuk pada kamus. Sudah enak kan, bunyinya. Dan bagi orang yg telah umum mudah dipahami, konotasinya tidak jelek. Sinkron dengan suara bahasa Indonesia. Seperti itu,” ujar Ganjar ketika Diskusi Pendidikan Bersama Media mengenai Bahasa di Jakarta, Senin (13/8/2018).

Ia menuturkan, KBBI tersedia dalam dua versi, yaitu luring (luar jaringan) atau offline, & daring (pada jaringan) atau online. Aplikasi KBBI jua sudah sanggup diunduh pada ponsel pandai . Di pada KBBI juga tersedia kategorisasi buat mempermudah pengguna mencari makna kata.

“Kalau mau mencari ragamnya, klasik atau dari jenis bidang ilmu juga mampu. Kategorisasinya ada macam-macam, ya. Misalnya terdapat dari bidang entomologi,” kata Ganjar. Selain itu beberapa bidang yg kategorinya terdapat pada pada KBBI diantaranya bidang agama, manajemen, fotografi, meteorologi, olahraga, dan pendidikan.

Ganjar menambahkan, kategori bahasa wilayah pula masih ada pada pada KBBI. Pengguna KBBI sanggup mencari kosakata berdasarkan serapan dari bahasa wilayah eksklusif. “Tidak hanya kosakata dari bahasa daerah. Misalnya berdasarkan bahasa Aceh telah diserap berapa kosakata (di KBBI), itu mampu ketahuan, yaitu ada 126 (kata) yg diserap menurut bahasa Aceh. Lalu dari bahasa Jawa ada 1.247 kata,” katanya.

Ia mengungkapkan, ragam bahasa daerah pun mampu tidak selaras kategori, misalnya bahasa Melayu. “Ada Melayu Medan, Melayu Kalimantan, Melayu Malaysia, Melayu Manado, & Melayu Riau. “Melayu sendiri telah dipisah, ya. Biasanya yg banyak Melayu Riau,” ungkap Ganjar.

Dilansir menurut laman http://badanbahasa.Kemdikbud.Go.Id , terdapat lima persyaratan buat menjadi “rakyat” KBBI, yaitu :

Unik. Kata yang diusulkan, baik dari dari bahasa wilayah, maupun bahasa asing, memiliki makna yang belum terdapat pada bahasa Indonesia.
Eufonik (lezat didengar). Kata yg disusulkan tidak mengandung suara yg tidak lazim pada bahasa Indonesia atau dengan kata lain sinkron menggunakan kaidah fonologi bahasa Indonesia (gampang dilafalkan).

Seturut kaidah bahasa Indonesia. Kata tersebut bisa dibentuk & membangun istilah lain dengan kaidah pembentukan istilah bahasa Indonesia, misalnya pengimbuhan dan pemajemukan.
Tidak berkonotasi negatif. Kata yg memiliki konotasi negatif nir dianjurkan masuk lantaran kemungkinan nir diterima di kalangan pengguna tinggi, misalnya beberapa kata yg memiliki makna sama yang belum terdapat pada bahasa Indonesia.

Kerap dipakai. Kekerapan pemakaian sebuah istilah diukur menggunakan frekuensi (frequence) & julat (range). Frekuensi adalah kekerapan kemunculan sebuah kata dalam korpus, sedangkan julat adalah ketersebaran kemunculan kata tersebut di beberapa wilayah.

Baca Juga :

Author: 6ketr