KEGIATAN PASCA TAMBANG PADA IZIN USAHA PERTAMBANGAN

KEGIATAN PASCA TAMBANG PADA IZIN USAHA PERTAMBANGAN

KEGIATAN PASCA TAMBANG PADA IZIN USAHA PERTAMBANGAN

KEGIATAN PASCA TAMBANG PADA IZIN USAHA PERTAMBANGAN
KEGIATAN PASCA TAMBANG PADA IZIN USAHA PERTAMBANGAN

Kajian Teori

Rencana pasca tambang disusun sebagai bagian dari komitmen Perusahaan pertambangan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi. Pada dasarnya perusahaan pertambangan dari waktu ke waktu secara aktif dan progresif telah melaksanakan rehabilitasi area tambang non aktif untuk memenuhi ketentuan pertambangan, khususnya reklamasi lahan bekas tambang. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir luas area yang harus direhabilitasi pada saat penutupan tambang kelak. Tindakan rehabilitasi dan reklamasi akan diimplementasikan secara progresif selama sisa umur tambang (khususnya di daerah yang sudah selesai ditambang). Bangunan, instalasi dan infrastruktur yang akan dimanfaatkan dan tapak bekas tambang akan direhabilitasi pada saat tambang dan kegiatan penunjang yang berkaitan akan ditutup secara permanen.

 

Kegiatan Penambangan

Kegiatan pada tahap operasi penambangan adalah diawali dengan pembebasan lahan pada lahan-lahan yang akan dimiliki oleh masyarakat. Selanjutnya lahan yang telah dibebaskan akan dilakukan pembersihan lahan (land clearing), pengolahan tanah pucuk, pengupasan tanah penutup (overburden removal), serta penambangan dan pengangkutan batubara.

  1. Pembebasan lahan

Pembebasan lahan dan ganti rugi tanam tumbuh dilakukan pada seluruh areal rencana penambangan dan areal prasarana penunjangnya. Pembebasan lahan dilakukan berdasarkan kesepakatan dan musyawarah antara penduduk pemilik lahan dengan perusahaan, disaksikan oleh kepala desa serta aparat pemerintah setempat.

  1. Pembersihan Lahan

Pembersihan lahan dilakukan dengan menggunakan bulldozer yang dilengkapi dengan sling  (wirerope) untuk menumbangkan pohon yang berdiameter kecil sampai besar dan menggunakan mesin gergaji.

  1. Pengelolaan Tanah Pucuk

Pengupasan tanah pucuk atau zona pengakaran (top soil) yang mengandung unsur hara dengan ketebalan antara 0,25 – 1,00 meter. Tanah pucuk tersebut harus dilakukan pengelolaan khusus yang baik yang mencakup pengumpulan, pengangkutan ke lokasi khusus, perlindungan tanah pucuk dan penyebaran kembali pada saat akan dilakukan revegetasi.

  1. Pengupasan Tanah / Batuan Penutup

Dalam tahapan pengupasan  tanah penutup meliputi kegiatan pemberaian, penggalian dan pemuatan, pengangkutan dan penimbunan. Prinsip penimbunan tanah penutup akan ditempatkan / ditimbun pada area bekas lubang penambangan  sebelumnya untuk penerapan back filling. Hal ini juga dimaksudkan sebagai langkah pendahuluan penataan lahan dalam rangkaian kegiatan reklamasi lahan bekas tambang. Perataan timbunan dan pengaturan bentuk muka tanah timbunan dilakukan dengan bulldozer.

  1. Penambangan Batubara

Dalam pelaksanaan penambangan batubara menggunakan alat tambang utama yaitu excavator sebagai alat gali dan muat serta alat angkut dumptruck (ADT). Jenis excavator yang dipilih adalah backhoe dan jenis dumptruck yang digunakan adalah jenis articulated dumptruck yang dapat mengatasi kondisi front kerja yang relatif sempit, serta lokasi tambang yang lembek dan becek. Dalam kegiatan pengupasan tanah penutup dan penggalian lapisan batubara ditempatkan pengawas yang memandu operator bulldozer dan operator backhoe.

  1. Pengangkutan Batubara

Pengangkutan batubara dari front penambangan ke stockpile yang terletak dilokasi tambang denga jarak tertentu dari masing-masing blok tambang menggunakan dumptruck. Selanjutnya batubara hasil penumpukan di stockpile diangkut ke stockpile pelabuhan. Batubara yang telah terkumpul pada stockpile siap dikapalkan untuk dipasarkan sesuai dengan kebutuhan pasar.

  1. Air Asam Tambang

Fenomena terbentuknya air asam tambang tidak terjadi atau belum memberikan dampak yang berarti selama berlangsungnya kegiatan penambangan batubara di wilayah Izin Usaha Pertambangan, namun potensi terjadinya air asam tambang tetap perlu diwaspadai. Air asam tambang terjadi karena reaksi oksidasi mineral sulfida yang terekspose dengan udara dan air.

Prinsip-prinsip penanganan air asam tambang adalah sebagai berikut :

Mencegah rembesan air kedalam massa pecahan batu

Menutup aliran udara dan atmosfer ke dalam batuan

Mengisolasi daerah batuan sulfida dari daerah berair

Menetralisir air asam tambang yang telah terbentuk yang biasanya dilakukan dengan menambahkan kapur.

Pengendalian Erosi dan Sedimentasi

Pengendalian erosi saat dilakukan proses penutupan tambang dilakukan dengan cara :

Pembuatan kemiringan diusahakan sependek mungkin dan berjenjang.

Membuat saluran untuk menampung air larian (run-off). Sedangkan untuk menangani sedimentasi yaitu dengan membuat kolam-kolam pengendapan. Pada masa pasca tambang kolam-kolam pengendapan dapat juga berupa lubang-lubang yang sengaja ditinggalkan dengan tujuan peruntukan lainnya.

 

PEMBAHASAN

Rencana penutupan tambang membahas mengenai reklamasi, pemeliharaan, dan perawatan serta sosial dan ekonomi. Program penutupan tambang juga menginformasikan tentang penonaktifan dan atau pembongkaran beberapa fasilitas di area tapak tambang, fasilitas pengolahan serta fasilitas penunjang.

Beberapa fasilitas dan infrastruktur tertentu yang terkait dengan operasi Pemilik Izin Usaha Pertambangan seperti sarana jalan utama tambang diasumsikan akan tetap dibiarkan pada saat penutupan, hal ini dengan pertimbangan bahwa sarana jalan tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai akses jalan menuju kebun dan jalan angkut hasil perkebunan masyarakat.

Sarana dan fasilitas penunjang seperti bangunan kantor tambang, mess karyawan, bengkel, gudang dan stockpile serta bangunan gudang bahan peledak akan dilakukan reklamasi.

Aspek-aspek yang harus dipertimbangkan dan saling membatasi dalam penyusunan rencana penutupan tambang antara lain:

  • Rencana pembangunan regional yang dituangkan dlam RTRW;
  • Kewajiban Pemilik Izin Usaha Pertambangan yang berkaitan dengan Reklamasi lahan bekas tambang;
  • Penyerahan aset atau fasilitas yang masih dapat digunakan oleh umum atau pemerintah.
  • Kondisi geografis dan geologis wilayah pertambangan;
  • Keinginan masyarakat sekitar wilayah pertambangan

Reklamasi

Kegiatan reklamasi telah dilaksanakan pada masa operasi tambang yang dilakukan sesuai dengan Rencana Reklamasi Lima Tahunan yang secara periodik dilaporkan ke Pemerintah. Tahapan reklamasi lahan pasca tambang meliputi kegiatan pengaturan/ pembentukan muka lahan dengan standar lereng lahan reklamasi, pengembalian tanah pucuk, pengendalian erosi, pembangunan drainase, pembangunan jalan revegetasi, penghijauan, pemeliharaan tanaman dan pemantauan keberhasilan.

Pada kegiatan penataan lahan, timbunan tanah penutup ditata sedemikian rupa menyesuaikan kontur lahan alaminya. Pengendalian erosi dilakukan denghan membangun sarana pengendali seperti lerengh balik (back-slope), saluran air, kolam pengendapan, tanggul pengelak, rip-rap dan lain-lain.

Setelah tahapan penataan lahan selesai dilakukan, tanah pucuk (topsoil) ditebarkan ke seluruh lahan dengan ketebalan antara 20 cm. Tahapan reklamasi selanjutnya adalah penanaman tanaman penutup tanah dan pohon-pohon jenis pioneer. Lahan yang telah digemburkan ditaburi dengan kompos sebanyak 15- 20 ton/ha untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah agar kondusif untuk pertumbuhan tanaman penutup tanah.

 

Jenis tanaman penutup yang dipergunakan antara lain

Jenis rumput (Bermuda atau Cynodon dactylon dan padi-padian atau Oryzae sp) serta jenis kacang-kacangan ( Defrozia atau Defrozia sp dan orok-orok atau Chrotalaria sp ).

Benih tanaman penutup tanah ditanam denghan cara disebar di atas dengan jumlah 50 kg/Ha yang telah diberi kompos. Adapun benih tanaman penutup tanah merupakan campuran dari jenis rumput-rumputan dan kacang- kacangan.

Pada tahap revegetasi, jenis veegetasi yang akan ditanam berupa tanaman pionir seperti sengon (albiza falcata), lamtoro (leucaena leucocephala). Selain itu akan ditanam tanaman penutup antara lain centrosoma pubescens, callopogonium muconoides dengan sistem lubang ataupun jalur bersambung.

 

Pemeliharaan dan Perawatan

Pada tahap pemeliharaan tanaman yang meliputi penyulaman dan pemupukan. Penyulaman dilakukan dengan menggantikan tanaman yang mati, serta pemberian pupuk yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman revegetasi. Selain itu sistem drainasi perlu diperhatikan agar tidak ada lokasi tergenang. Pembibitan tanaman dilakukan secara tersendiri untuk memenuhi kebutuhan bibit dan menjaga ketersediaan bibit.

Perawatan lahan bekas tambang, pengolahan dan bekas fasilitas penunjang dilakukan untuk menjaga perubahan yang disebabkan cuaca terhadap stabilitas fasilitas yang direklamasi. Perawatan tersebut meliputi kestabilan lereng dan fungsi drainage untuk penyaluran air. Sebutkan Unsur – Unsur Kebahasaan Yang Ada Dalam Teks Editorial

 

Pelepasan Tenaga Kerja

Setelah kegiatan pertambangan batubara berakhir, maka akan dilakukan pelepasan tenaga kerja. Penanganan tenaga kerja yang dilepas dilakukan dengan cara memberikan pesangon kepada tenaga kerja yang terkena PHK serta memberikan bimbingan/pelatihan.

Author: 6ketr